Kamis, 04 Oktober 2012

Cara Mengembangkan Hobi Menulis


Jika kita berbicara tentang menulis sejatinya kita sebenarnya sudah menjadi penulis. Yang membedakan dengan penulis lainnya adalah apakah tulisan kita sudah dipublikasikan?? Loh kok, bisa?? Coba temen-temen ingat, kapan pertama kali kita sekolah? Atau jika kita tidak sekolah setidaknya kapan kita diajarkan tulis menulis oleh orang tua kita? Maka sejak saat itu pula kita sebenarnya sudah menjadi penulis. Biasanya di Indonesia pendidikan dimulai di usia 7-8 tahun, sejak saat itu pula kita terbiasa menulis mata pelajaran. Namun sayangnya hal itu hanya bersifat pasif.
Atau apakah temen-temen pernah mendengar kalimat seperti ini: “Diakan menjadi penulis karena memang bakatnya menulis”. Jika jawabnya pernah, maka tinggalkan pola pemikiran bahwa menulis atau penulis adalah bakat. Bukan! Sekali lagi bukan kawan!!. Menulis adalah bukan bakat. Semua orang ada bakat untuk menulis sebagaimana yang sudah diuraikan, kita sudah belajar menulis sejak masuk SD. Bakat itu lahir karena proses, dan proses itu adalah hasil dari ketekunan mereka berlatih, sehingga muncullah istilah di masyarakat dengan dengan kuat bahwa menulis adalah bakat. Karena cenderung masyarakat hanya melihat hasilnya saja bukan bagaimana proses dari hasil tersebut. Seperti halnya orang memandang pengertian cerdas, pintar, smart, cermat dan sebagainya. Itu lahir bukan karena bakat atau serta merta kecuali nabi dan Rasulullah yang biasa kita kenal dengan mukjizat. Tetapi seseorang dikatakan cerdas lantaran ia berusaha belajar dengan sungguh-sungguh, hanya saja yang membedakan satu dengan yang lainnya adalah seberapa cepat otak manusia menangkap materi yang diajarkan.

Sebetulnya untuk menjadi penulis tidaklah sulit, terkadang kita terbentur terhadap teknis dan tatacara menulis yang pada akhirnya ingin dijadikan karya (buku, novel dll). Menulis dapat dimuali dari hal-hal yang sangat sederhana sekali, misalnya sebagai berikut:

1.Buku Harian
Bersukurlah teman jika kamu suka menulis di buku harian. Buku harian memang identik dengan feminim. Sekali lagi tidak. Buku harian atau buku harian online yang biasa kita sebut dengan blog. Ternyata juga faktor yang membuat kita suka menulis. Jangan takut dibilang feminim. Teruslah menulis di buku harian, selain kita menjadi lega perasaan kita karena dapat menumpahkan segala unek-unek, kesal, marah kita tanpa buku harian memprotesnya. Juga kita mendapatkan sisi positivnya berupa terbiasa menulis.

2.Hobby
Jika kesusahan dalam menulis, maka tulislah sesuai hobby atau kesukaan teman-teman. Sebagai contoh jika teman-teman suka membaca novel maka cobalah menulis novel. Jika teman-teman suka dengan komputer maka cobalah tulis buku komputer. Jika temen-temen remaja putri bahkan suka memasak cobalah tulis buku masakan. Jika temen suka berpuisi maka cobalah tulis puisi-puisi sehingga harapannya sama dengan mereka seperti W.S Rendra, Mustofa Bisri, M H Ainun Najib (Cak Nun). Jika mereka bisa mengapa kita tidak.

3.Susah memulai
Pertanyaan ini memang kerap diajukan sama saya, saya juga mengalaminya. Ternyata menurut saya sendiri ide atau bagaimana awal menulis tersendat karena kurangnya kita membaca. Membaca tidak hanya sebatas membaca buku saja, membaca di sini dipahami secara luas. Membaca buku, membaca website, membaca alam semesta dan sebagainya. Insya Allah dengan banyak membaca maka akan dapat memudahkan kita dalam menulis. Semakin banyak membaca maka hasil tulisan kita bagaikan air sungai yang mengalir deras.

0 komentar:

Buku Tamu